Ini bukan desain guyon. Ini koran betulan. Bukalah blog PosMetro yang dikelola oleh penyair dengan tugas rangkap: ya pemimpin redaksi, ya kartunis.
Untuk mempertajam ingatan pasar terhadap merek maka nama PosMetro Batam diringkas menjadi PosMetro. Sajiannya ya sangat khas city paper untuk pasar kelas menengah ke bawah. Meriah, sensasional, dengan ramuan sex, crime and rock n’ roll.
Tentu, itu hanya stereotipe koran kota. Pos Kota di Jakarta, misalnya, pembacanya tak hanya kalangan mid-middle dan low-middle ke bawah. Yang tak butuh berita memilih membaca iklannya.
Haruskah koran kota selalu begitu? Tidak juga. Tapi kalau peristiwa terdekat di sekitar pembaca memang berisi kekerasan dan pelanggaran hukum kelas abal-abal, masa tak diberitakan? Bagaimana pun info itu mereka perlukan untuk menjalani kehidupan. Info dari dunia terdekat.
Untuk panduan gaya hidup urban sudah ada medianya sendiri, yang memuat acara resto, kine klub, toko buku berkafe, mini theater, klub anggur, klub cerutu, program yoga, toko sayuran organik, seminar vegetarian, sampai rave party. Untuk pembaca dari kalangan ini, sebagian urusan hidup sudah beres. Orang lain menjambret ponsel untuk menebus biaya persalinan istri di klinik bersalin cuma mengundang gumam, “Kok bisa sih?”







4 Comments
bos, aku juga punya koran. klik ajah
wah, salah. koranku ada di sini.
alamat ku di sini.
mantep bos!! apa lagi front page yang di flickr, keren2!
Post a Comment