
Mungkin ini sebuah sisipan atau seksi khusus leisure dari sebuah koran umum. Tepatnya koran umum yang gossipy.
Kenapa terbit satu halaman? Itu akibat dia berpikir sektarian, hanya mengurusi halamannya sendiri, sesuai perintah juragan, “Jatah lu sehalaman.” Bahwa selembar kertas itu berarti dua halaman — tak soal sisi belakangnya polos atau terisi — rupanya tidak dia hiraukan.
Sebuah koran adalah cerminan penerbitnya. Dalam kasus seksi khusus ini jelas terlihat bahwa penangkar “manuk wagu asu” (spesies baru) itu merasa hari kerjanya terlalu panjang dan memenatkan.
Jumat rehat, Sabtu melucu, Ahad minggat, belum dia rasa memadai. Akibatnya rubrik edisi Senin pun bersuasana akhir pekan.
Barangkali saja, selain rada lumayan cerdas, dia agak sedikit bisa berpikir positif. Kegiatan akhir pekan sebaiknya dirancang sejak Senin.







3 Comments
di dunia permanukan, senen itu memang hari libur. kami beda, bung!
aku entuk melu ora, mas?
aku entuk melu ora, mas? koranku ning kene
Post a Comment