Daripada merepoti banyak orang karena hamburan popups dan sejenisnya maka lapak koran-koran pindah ke seberang. Harus maklum.
Terima jadi,
Jagalapak
Daripada merepoti banyak orang karena hamburan popups dan sejenisnya maka lapak koran-koran pindah ke seberang. Harus maklum.
Terima jadi,
Jagalapak
Ini bukan desain guyon. Ini koran betulan. Bukalah blog PosMetro yang dikelola oleh penyair dengan tugas rangkap: ya pemimpin redaksi, ya kartunis.
Untuk mempertajam ingatan pasar terhadap merek maka nama PosMetro Batam diringkas menjadi PosMetro. Sajiannya ya sangat khas city paper untuk pasar kelas menengah ke bawah. Meriah, sensasional, dengan ramuan sex, crime and rock n’ roll.
Tentu, itu hanya stereotipe koran kota. Pos Kota di Jakarta, misalnya, pembacanya tak hanya kalangan mid-middle dan low-middle ke bawah. Yang tak butuh berita memilih membaca iklannya.
Haruskah koran kota selalu begitu? Tidak juga. Tapi kalau peristiwa terdekat di sekitar pembaca memang berisi kekerasan dan pelanggaran hukum kelas abal-abal, masa tak diberitakan? Bagaimana pun info itu mereka perlukan untuk menjalani kehidupan. Info dari dunia terdekat.
Untuk panduan gaya hidup urban sudah ada medianya sendiri, yang memuat acara resto, kine klub, toko buku berkafe, mini theater, klub anggur, klub cerutu, program yoga, toko sayuran organik, seminar vegetarian, sampai rave party. Untuk pembaca dari kalangan ini, sebagian urusan hidup sudah beres. Orang lain menjambret ponsel untuk menebus biaya persalinan istri di klinik bersalin cuma mengundang gumam, “Kok bisa sih?”

Prabayar. Prepaid. Bayar di muka. Untuk langganan cara lama, tepatnya langganan koran (via pos, tiga bulan sekalian) dan majalah, cara ini sudah lazim.
Tuan Hedi, penerbit merangkap kepala editor, memang menyukai apa saja yang sekadarnya. Tidak berlebihan. Maka gambar orang yang sexy, sebagai contoh gemar baca, juga sekadarnya. Kalau lebih dari itu namanya… ya lebih suexxxyyyy.
Tapi doyan baca atau tidak, Jeng Paris itu sudah sexy. Memang sih, judul “Paris Hilton pun…” bisa memancing banyak tafsir. Minimal tanya, “Emang napa kalo hobi baca?” Jawaban gaya kambing, “Yah, dia kan mampu beli buku.”

Apanya yang keramat? Itu lho, angka “68%” — bukan “69 (persen) — yang diakrabi banyak bloggers. Ralat: dikenal oleh banyak bloggers tapi tanpa kurang akrab.
Tak apa, memang begitulah seharusnya. Judul berita dengan angka tampak lebih meyakinkan. Pendekatan kuantitatif kadang memberi kesan lebih terukur bila dibandingkan pernyataan “sebagian” atau “banyak”.
Masih menyangkut angka, koran harian terbitan The Days After ini unik karena diperlakukan mirip buku. Yang ini masih cetakan pertama. Setelah itu pasti ada cetakan kedua dan seterusnya, mungkin dengan sedikit revisi.
“Lho ini kan koran tahun lalu, Jang? Basi, tau nggak?” tanya pembeli kepada pengasong.
“Beda dong, Bos! Yang ini cetakan ketiga! Namanya juga edisi keramat, Bos!” kata si Ujang.

Mungkin ini sebuah sisipan atau seksi khusus leisure dari sebuah koran umum. Tepatnya koran umum yang gossipy.
Kenapa terbit satu halaman? Itu akibat dia berpikir sektarian, hanya mengurusi halamannya sendiri, sesuai perintah juragan, “Jatah lu sehalaman.” Bahwa selembar kertas itu berarti dua halaman — tak soal sisi belakangnya polos atau terisi — rupanya tidak dia hiraukan.
Sebuah koran adalah cerminan penerbitnya. Dalam kasus seksi khusus ini jelas terlihat bahwa penangkar “manuk wagu asu” (spesies baru) itu merasa hari kerjanya terlalu panjang dan memenatkan.
Jumat rehat, Sabtu melucu, Ahad minggat, belum dia rasa memadai. Akibatnya rubrik edisi Senin pun bersuasana akhir pekan.
Barangkali saja, selain rada lumayan cerdas, dia agak sedikit bisa berpikir positif. Kegiatan akhir pekan sebaiknya dirancang sejak Senin.

Aplikasi Office, terutama pengolah katanya, bisa dimanfaatkan untuk bikin koran-koranan. Office dan Word-nya Microsof juga bisa, tapi lebih sederhana bila dibandingkan Office lain yang lebih komplet. Jadi, intinya, Anda semakin mudah bikin koran-koranan.
Untuk menghasilkan screenshot yang lebih bersih ambillah dari Print Preview, baru kemudian Anda edit seperlunya, misalnya cropping dan resizing, dengan pengolah gambar.
Pengolah gambarnya bisa peranti image editing (Photoshop, Paint), bisa juga image viewer (misalnya ACDSee). Mari!

Pengirim pertama adalah seorang bekas loper yang dulu dipecat bosnya, seorang agen ganda*, karena meletakkan tumpukan koran di pinggir lapangan tenis sebuah kompleks. Alasannya, “Capek ngegoes sepedah! Mana anjingnya pada galak lagi.”
Kelak di kemudian hari dia dimagangkan di bagian sirkulasi sebuah koran bagus. Setiap kali mendengar keluhan pelanggan langsung terbayang skandal lapangan tenis.
Sekarang dia jadi agen rahasia** yang suka membocorkan rahasia.
* agen ganda = ya agen koran, ya agen majalah
** agen rahasia = agen resmi koran x, tapi dapat duit dari koran y
Welcome to Koran-koranan Bloggers. Harap dibaca secara Indonesia: koran-koranan milik blogger(s).
Festival belum dimulai, karena siapa panitianya pun belum ada, apalagi hadiahnya, eh sudah ada yang mendaftarkan korannya.
Maka inilah bukti bahwa bloggers memang suka iseng, usil, dan buang waktu. Sungguh menyedihkan.